Selasa, 22 Juli 2008

santri tiban

Oleh : Geger Gendroyono

Petir menyambar tiga kali. Tapi hujan tanpak tak akan pernah turun. Mentari masih enggan menutup dirinya dengan balutan awan hitam, kawanan itu seakan berlalu tanpa mau singgah barang tiga menit saja. Pak Guru Satta menatap hal itu penuh kemasygulan. Mulutnya kontan beristighfar tiga kali tanda bahwa ia begitu lemah begitu kecil di hadapan Sang Penguasa segala-galanya. Tubuhnya yang tambun, janggutnya tebal dan perawakannya yang tinggi tegap tak kemudian membuatnya merasa enggan merasa kecil dan hina di hadapan-Nya.
Mendung berlalu dengan sedikit ejekan pada tanah kering kerontang di bawahnya. Tak pernah peduli bahwa ratusan orang di bawah sana tengah mengharap setetes air dari kantongnya. Tapi awan tak harus punya perasaan manusia, toh ia tidak pernah terikat kontrak apapun dengan mereka. Tak harus peduli bahwa para petani tembakau itu sedang mengharapkan rinai hujan untuk beberapa petak dederan tembakaunya.
Matahari mulai sedikit sumarah dengan sorotnya yang teduh dan mencengangkan siapa melihatnya bagai sapuan warna emas dalam kanfas para master art lebih indah bahkan. Sore itu Pak Satta, demikian semua santri menyapa, sedang sibuk menyisir janggut dengan jari-jari keleng-nya agar air dapat meresap sempurna ke dalam rimba kecil tersebut. Pak Satta baru saja bangun dari sare siang ketika mendengar suara adzan menggema dari surau. Sebentar mata merah menyalaknya berputar untuk mengembalikan kesadaran sepenuhnya bahwa ia masih memiliki nafas untuk melanjutkan sisa pengabdian tanpa akhir melanjutkan garisnya sebagai khalifah di bumi Allah ini.
Segalanya tampak nyata bagi orang tua yang alim waskito itu. Amben tempatnya rebah tiap siang atau dinding sesek yang menghalau angin pancaroba, tiang-tiang bambu dengan pasak penuh guratan alam sisa makanan kawanan rayap yang mungkin merasa iba lalu pergi entah ke mana. Ia keluar tanpa membuka atau menutup pintu. Papan dari triplek bekas cetak beton itu seakan tidak pernah menjalankan perannya sebagai pintu. Pak Satta tidak pernah meunutup rumahnya siang hari, tak pula menguncinya malam hari. Kadang angin malam meniupnya dan membiarkan pejalan kaki melihat betapa kelam keadaan dalam gubuk situ.
Padasan di pekarangan rumah. Benda itulah satu-satunya hal yang membuatnya tenang tinggal di rumahnya. Air jernih yang mengalir dari mulutnya akan salalu jatuh menerpa wajah, lengan, rambut, liang kuping dan sepasang kaki besarnya. Ia jarang sekali terlihat mandi, sungai masih setengah kilo jauhnya, lebih sering berdiam sendirian di dalam surau yang dulu dibuat oleh Bapaknya di atas tanah wakaf milik kakek buyut. Kini mereka sudah tiada, istrinya yang kata orang adalah kembang desa itu pun lari sepuluh tahun lalu meninggalkan kehampaan sempurna untuk kehidupannya hingga saat ini. Bayak orang menyebutnya linglung karena hal itu tapi sesungguhnya ia lebih waras dan sadar dari siapapun di tempat itu.
Lebih-lebih sejak dua tahun lalu. Entah dari mana sangkan parane kedadian banyak orang dari tempat jauh datang ingin menjadi muridnya, matanya yang keliwat tajam sama sekali tidak menampakkan keheranan apalagi merasa bangga diri. “Semua sudah ada yang mengatur”
Sore menjelang Maghrib ia keluar dari rumah, sekonyong-konyong beberapa santri menyambutnya dengan antusiasme bukan buatan. Yang satu menyiapkan terompah, lainnya mengambil kendi membasuh kakinya yang belepotan debu. Risih juga diperlakukan layaknya priyayi, ia menghardik dan melarang hal tersebut tapi santri-santrinya seperti kebal hardik dan menutup telinga untuk teguran. Selanjutnya dia merasa hal itu sebagai ritual biasa yang tak membersitkan apapun di hatinya.



Pak Guru Satta kini punya kesibukan baru kala matahari hendak terbit dan tenggelam. Dia harus ngopeni santri-santri yang entah datang dari mana saja. Bahkan kini ia juga berkewajiban membuatkan gotakan sebagai tempat mereka berteduh. Soalnya kasihan juga bila mereka harus dibiarkan tidur di emperan rumahnya, sebagian lagi tidur di emperan surau. Tidak ada yang berani tidur di dalam surau, mungkin takut kalau mengganggu kenyamanan ibadah malam sang guru.
Beberapa tukang didatangkan, dan lonjoran-lonjorang bambu pun dibeli. Sementara para santri itu bersama-sama menganyam ilalang untuk atap, sebagian lainnya menjalin bambu untuk dinding. Tak berapa lama jadilah gotakan-gotakan milik Pak Guru Satta. Anehnya Pak Guru, ia tidak kunjung mau dipanggil kiai, padahal ia sudah punya santri dan gotakan-gotakan. “Jadi Kiai itu resikonya berat.dibawa sampai ke akherat. Saya kuatir tidak kuat” ujarnya suatu kali. “Biarlah saya mengajari sampean apa yang saya bisa, dan jangan memanggil saya dengan sebutan macam-macam!”
Demikianlah kehidupan terus berjalan dan Pak Guru Satta mulai asyik masyuk dengan kehidupan priyayi yang mendadak diterimanya. Sampai beberapa lama ia masih menganggap itu adalah kurnia Tuhan yang bisa kapanpun dicabut darinya. Namun waktu terus berputar, seiring dengan semakin banyak saja santri yang berdatangan ke gotakannya, rasanya ia seperti digelontor rejeki dari langit. Tiap hari selalu ada saja yang datang membawa paling sedikit lima puluh ribu. Bahkan, ada juga yang tiba-tiba datang dengan satu rit pasir dan pedel.
Sebutan kiai pun lambat laun terasa begitu nyaman di telinganya. Bahkan ada semacam ketersinggungan bila masih ada orang yang memanggilnya Pak Guru. Saat itulah bermunculan pikiran untuk membangun bangunan gedong berlantai tegel berdinding keramik, juga santri yang berjumlah ribuan. Alangkah nyamannya.
Ya, realisasi dari angan-angan tersebut ia mulai dengan menulis plakat untuk nama pondoknya, “Darrul Ulum” dipasang besar-besar di depan rumahnya. Kemudian dilanjutkan dengan membangun rumahnya sendiri, lalu surau yang setiap tengah malam ia kunjungi hanya sebatas formalitas dan pantes-pantesan saja. Lebih dari itu setiap malam-malamnya habis buat mengagumi dirinya sendiri dan mempertimbangkan seberapa tinggi derajatnya bila dibandingkan si anu dan si itu. Satu malam, bahkan, dalam munajatnya ia membanggakan dirinya dengan berbisik. “Ya Allah, Engkau memang serbatahu mana hamba yang pantas menerima kurnia dan tidak. Belasan tahun sudah hamba menderita dalam laku dan rialat. Kini saatnya hamba memanen semuanya.”



Tahun demi tahun berlalu, dan apa yang dulu dibayangkan oleh Pak Guru Satta kini benar terwujud. Pesantrennya sudah melebar hingga memakan sampai lahan dua hektar. Gotakan reot dulu telah berganti gedong megah bertingkat, lapangan luas dan sebuah gedung madrasah yang juga bertingkat. Lebih dari itu santrinya sudah ada lima ribuan. Dalemnya pun sudah seperti kediaman wali kota, lengkap dengan hodam-hodam lelaki-perempuan dan seorang Bu Nyai cantik dari santriwatinya sendiri. Tak butuh waktu yang terlalu lama Pak Guru Satta telah bermetamorfosis menjadi KH. Satta Ibrahim, yang kemana-mana berkoko putih, menyandang surban hijau halus dan bersarung BHS. Nama belakang itu diambil dari nama mendiang kakeknya yang dianggap rimanya paling cocok, karena bapaknya sendiri bernama Sarman.
Kini hampir-hampir Pak Guru Satta tidak pernah lagi tidur terlalu larut malam, juga keluar dari dalem agungnya, meski hanya sekedar mengunjungi suraunya yang terlampau megah. Kebiasaan barunya tiap sore adalah menerima tamu penting dari kalangan pejabat dan menimbang-nimbang seberapa tebal amplop salam tempel yang diterimanya sepanjang tadi siang.
Tuban 20 juli 2008
*)Penulis adalah dedengkot FKJS (Forum Kajian Jurnalistik dan Sastra PP. Langitan)

HP: 085854887676

Minggu, 13 Juli 2008

AH, DASAR CINTA

AH, DASAR CINTA


Aku memandang senyum indahmu
Bergetar rasa dalam hatiku, rasa yang mampu menyengat jiwaku
Aku bingung kenapa harus kamu?

Aku tersenyum dan lunglai dalam gelora cinta yang kini mempesonaku

Aku mulai mengagumimu
Aku mulai perhatikanmu


Aku sering bahkan mungkin selalu hadirkanmu dalam bayang semu yang bergelora dalam otakku
Dan akupun sering menangis rasakan gelora rindu yang indah dan menyiksaku
Aku seperti terbang saat ku dengar suaramu walau itu bukan untukku
Aku tersenyum dan tergila-gilaa padamu

Aku memandang langit yang jelas berpura-pura tak tahu suasana dalam hatiku
Aku memandang bintang yang kini iri dan ingin menjadi aku
Dan aku mencoba memandangmu dalam ingatanku, cintaku!

Saat cinta melanda
Aku terbang rasakannya memelukku
Aku bernyanyi seperti sang peri
Aku tertawa sangat bahagia

Aku merasakan cinta ini, sangat berharga
Aku adalah mutiara, saat aku ada di dekatnya
Dan bangkai saat aku jauh darinya

Kian lama, aku merasakan cinta ini kian menyiksa
Nyanyian-nyanyiaan tentang cinta
Selalu menjadi pengiring lagu sendu lamunanku tentang cintaku padanya

Dan kini aku benar-benar sangat mencintainya
By: Ragil BCL.