Minggu, 17 Agustus 2008
Berhala
Geger Gendroyono
Lelaki brewok awut-awutan itu meradang. Langkahnya cepat panjang-panjang. Tangan kanannya erat mencengkram obor menyala berkobar. Matanya berkilat api meluluhlantakkan. Dua, tiga, lima orang gagal menggamitnya. Terpental berjatuhan. Terempas oleh energi entah dari mana.
Biar. Biarkan kubakar berhala itu.
Tapi sebelum kakinya benar-benar menyentuh pelataran masjid, ia tersungkur hancur. Darah segar muncrat dari kepalanya yang remuk dihantam beton dan sekrub.
Ia lahir dari sesal yang tak berkesudahan. Dari persetubuhan yang terlarang. Pada suatu malam di mana hujan turun rinai-rinai dan air ketuban sudah pecah berulang. Rengek tangis dan jeritan menjadi nyanyian merdu tengah malam, padu dengan petir yang menggelegar kadang-kadang. Mengibakan para wanita yang setiap pagi arisan selalu lezat menggunjing.
Lama ia mengerang, menjerit, dan menekan-nekan perutnya, mendorong-dorong agar setan kecil yang meringkuk di dalamnya segera enyah.
Kuatkan. Sebentar lagi kata dukun bayinya. Keringatnya bercucuran. Tak tahu lagi apa yang mesti dilakukan. Dia panik.
Tengah malam, persalinan semaking hebat. Angin yang keras bertiup dengan campuran bau keringat dan amis darah ketuban pecah. Akhirnya ia lahir tepat setelah hari bergeser. Kemis pahing ke Jumat legi.
Bayimu lahir sungsang kata dukun bayinya berkaca-kaca Kaki kanannya keluar duluan dan hari ini Jumat legi. Hari biasanya para pendekar dilahirkan. Aku telah memotong ari-arinya dengan ujung gigi. Memisahkan dia dengan sedulur yang menemaninya berbulan-bulan.
Ambillah dia untukmu Mbah kata ibunya masih terengah-engah. Berbulan lalu saat ia masih sebuncah darah, aku ingin menggugurkannya. Tapi entahlah berbongkah-bongkah nanas muda mengganjal perut buncitku, namun setan kecil ini masih hidup dan sekarang ia lahir hendak menjadi setan besar.
Tahun-tahun berlalu, ia tumbuh dengan perasaan yang selalu sama; terbuang. Ia sadar hidupnya tak pernah diharapkan, bahkan oleh ibunya sendiri. Tapi malang baginya. Pisau-pisau tumpul di kulitnya, api membelah dan air mengapungkannya. Mulutnya tak pernah terbuka, terkatub seperti naga yang siap menyemburkan api amarah. Rambutnya terjuntai sebahu. Ikal, gimbal dan merah menyala. Orang hanya akan menemuinya di terminal dan stasiun. Tempat di mana orang-orang dapat menerimanya. Sebagai bromocorah dan brandal. Begundal terminal yang makan dari jerit tangis para korbannya. Dan, neraka telah menunggunya di ujung lorong gelap hidupnya…
Hidupnya adalah penderitaan orang-orang di sekitarnya. Tapi maut tak sanggup sejangkal lebih dekat lagi padanya. Orang-orang tidak pernah tahu dalam garang sorot mata dan kokoh tulang rahangnya ia menangis sesenggukan. Mereka tidak pula ingin tahu. Dalam sepi, ia menjerit menggelepar, meraung-raung dalam lolongan sepertiga malam.
Masjid terminal. Sunyi dan ditinggalkan. Menjadi saksi orang-orang beruban yang kelelahan. Orang datang, mencuci muka, kencing lalu plencing entah kemana. Pedagang asongan tidur tengkurap di satu sudut di bawah almari berisi sarung-sarung kumal dan robekan kuran. Sajadah bolong di sana-sini berserakan bau debu. Imam di paling depan masih berzikir kusuk. Dua tiga orang muridnya terkantuk di belakang.
Ia datang dalam celana penuh rerobekan dan kemeja kumal bau terminal. Membangunkan murid dari tidurnya yang bohongan. Para murid berdiri dan sang imam pun berhenti. Namun ia tetap melangkah.
"Tobat" kata-katanya keluar berderit, tercekat tenggorokan.
Imam terperangah. Para murid mulai siaga. Tapi ia jatuh pada kedua lututnya. Seketika tangisnya pecah membuncah.
”Tolong." Suaranya bergema dalam lolongan pilu. "Tolong aku. Bawa aku kemana saja. Pergi jauh dari kekejaman ini." Ia meronta seperti hendak merobohkan masjid.
Imam sadar tengah menghadapi siapa. Bromocorah yang bosan dengan kelakuannya, muak dengan dosa-dosanya. Bintik bening menyumbul dari sudut matanya. Imam membimbingnya keluar dari masjid. "Ikutlah denganku. Nampaknya kau begitu haus. Di depan sana ada telaga yang akan membuat kerongkonganmu selalu basah." Mereka pergi. Meninggalkan bising terminal, deru desing mesin bus dan teriakan cempreng calo-calo.
Demikian episode kehidupannya berganti. Kemeja kumal tanpa lengan dilepasnya dengan riang, berganti koko dari katun yang kasar. Dan, celananya yang robek entah dibuangnya ke mana. Berganti sarung Wadimor tua bermotif kotak-kotak. Terminal yang hanya lengang pada pukul dua pagi tak pernah merasa kehilangan ia tinggalkan. Ia tak pernah kembali lagi ke tempat itu. Dilupakannya segala pernak-pernik dosa yang ia buat di sana. Dengan mengubur dalam segala kenangan tentang pisau, rantai gir dan parang plat baja.
Rambutnya yang panjang ikal dibabat habis hingga tinggal satu senti yang tegak berdiri. Kumisnya juga. Sebagai ganti, ia memelihara janggut. Perangainya dibuat halus mungkin dan pergelangan tangannya tidak lepas dibebat dengan tasbih kecil. Mulutnya bergumam-gumam tak pernah berhenti seakan merapal mantra untuk kesaktian. Tapi sorot matanya selalu terlihat gelisah.
Ia berubah, tapi tak pernah lupa. Dari rahim siapa ia merangkak keluar, dan ibu tua yang menelantarkannya di terminal. Gumpalan peristiwa kelam yang tak sanggup membunuhnya, mengendap jadi dendam yang diam-diam bersemayam dalam hati kecilnya. Salah siapa? Pertanyaan yang harus segera memperoleh jawab. Dan Sang Imam yang kemudian menjadi gurunya punya jawaban untuk itu.
"Dosa, setan, maksiat, kemiskinan." Gurunya berkata, dalam percakapan malam antara ia dan gurunya. Ketika garis fajar masih jauh di belakang, namun semua orang telah lelap dalam buaian bantal guling dan ketiak wanita. "Bersujudlah"
"Sampai kapan?"
"Sampai kau menemukan-Nya."
"Di mana?"
"Di sini!" gurunya mengangkat jari dan menunjuk kancing bajunya sendiri.
Ia diam.
"Sampai kau merasakan manisnya menyembah."
Sang guru pergi, tapi ia masih di sana sampai pagi. Sujud.
Berbulan-bulan lamanya ia menekan kuat-kuat kening tebalnya di sajadah kasar yang juga tebal. Menimbulkan bekas menghitam yang memancarkan aura segan. Gelar begundal sendirinya lepas dari namanya yang tak pernah dikenal oleh siapapun. Tapi matanya tetap gelisah. Bahkan semakin hebat ketika ia mulai memimpikan tentang obor, api dan berhala. Dalam mimpi selalu tangan kanannya memegang obor dan tangan yang lain menyulutkan api ke sumbunya. Lalu dari atas bukit yang jauh seorang berseru agar ia bergegas.
"Barkarlah jangan ragu!" suara itu berseru semakin menghujam gendang telinganya.
"Siapa kau?"
"Itu tidak penting. Tapi akulah yang selama ini kau cari-cari." Kini semakin menggelegar. "Bakarlah berhala-berhala itu. Bukankah itu sesembahan ibu dan wanita tua yang menelantarkanmu. Sumber malapetaka yang menimpa hidupmu. Hanguskanlah! Biar mereka sadar siapa yang patutnya disembah."
"Akan kubakar….!" Berulangkali ia selalu terbangun dalam teriakan yang sama. Namun pagi tadi ia memotong bilah bambu dan merobek ujung sarungnya sebagai sumbu. Dan, sore ini sebuah obor telah tercengkeram erat di tangan kanannya.
Sepanjang jalan ia berteriak tentang berhala dan api. Menarik minat tukang ojek, penarik becak dan warga kampung yang berleha-leha di pos ronda. Menyedot perhatian mereka untuk bergegas menyusulnya ke masjid.
Tuban 14 Agustus 2008
Oleh Geger Gendroyono. (penikmat cerpen lahir di lamongan)
Geger Gendroyono
Lelaki brewok awut-awutan itu meradang. Langkahnya cepat panjang-panjang. Tangan kanannya erat mencengkram obor menyala berkobar. Matanya berkilat api meluluhlantakkan. Dua, tiga, lima orang gagal menggamitnya. Terpental berjatuhan. Terempas oleh energi entah dari mana.
Biar. Biarkan kubakar berhala itu.
Tapi sebelum kakinya benar-benar menyentuh pelataran masjid, ia tersungkur hancur. Darah segar muncrat dari kepalanya yang remuk dihantam beton dan sekrub.
Ia lahir dari sesal yang tak berkesudahan. Dari persetubuhan yang terlarang. Pada suatu malam di mana hujan turun rinai-rinai dan air ketuban sudah pecah berulang. Rengek tangis dan jeritan menjadi nyanyian merdu tengah malam, padu dengan petir yang menggelegar kadang-kadang. Mengibakan para wanita yang setiap pagi arisan selalu lezat menggunjing.
Lama ia mengerang, menjerit, dan menekan-nekan perutnya, mendorong-dorong agar setan kecil yang meringkuk di dalamnya segera enyah.
Kuatkan. Sebentar lagi kata dukun bayinya. Keringatnya bercucuran. Tak tahu lagi apa yang mesti dilakukan. Dia panik.
Tengah malam, persalinan semaking hebat. Angin yang keras bertiup dengan campuran bau keringat dan amis darah ketuban pecah. Akhirnya ia lahir tepat setelah hari bergeser. Kemis pahing ke Jumat legi.
Bayimu lahir sungsang kata dukun bayinya berkaca-kaca Kaki kanannya keluar duluan dan hari ini Jumat legi. Hari biasanya para pendekar dilahirkan. Aku telah memotong ari-arinya dengan ujung gigi. Memisahkan dia dengan sedulur yang menemaninya berbulan-bulan.
Ambillah dia untukmu Mbah kata ibunya masih terengah-engah. Berbulan lalu saat ia masih sebuncah darah, aku ingin menggugurkannya. Tapi entahlah berbongkah-bongkah nanas muda mengganjal perut buncitku, namun setan kecil ini masih hidup dan sekarang ia lahir hendak menjadi setan besar.
Tahun-tahun berlalu, ia tumbuh dengan perasaan yang selalu sama; terbuang. Ia sadar hidupnya tak pernah diharapkan, bahkan oleh ibunya sendiri. Tapi malang baginya. Pisau-pisau tumpul di kulitnya, api membelah dan air mengapungkannya. Mulutnya tak pernah terbuka, terkatub seperti naga yang siap menyemburkan api amarah. Rambutnya terjuntai sebahu. Ikal, gimbal dan merah menyala. Orang hanya akan menemuinya di terminal dan stasiun. Tempat di mana orang-orang dapat menerimanya. Sebagai bromocorah dan brandal. Begundal terminal yang makan dari jerit tangis para korbannya. Dan, neraka telah menunggunya di ujung lorong gelap hidupnya…
Hidupnya adalah penderitaan orang-orang di sekitarnya. Tapi maut tak sanggup sejangkal lebih dekat lagi padanya. Orang-orang tidak pernah tahu dalam garang sorot mata dan kokoh tulang rahangnya ia menangis sesenggukan. Mereka tidak pula ingin tahu. Dalam sepi, ia menjerit menggelepar, meraung-raung dalam lolongan sepertiga malam.
Masjid terminal. Sunyi dan ditinggalkan. Menjadi saksi orang-orang beruban yang kelelahan. Orang datang, mencuci muka, kencing lalu plencing entah kemana. Pedagang asongan tidur tengkurap di satu sudut di bawah almari berisi sarung-sarung kumal dan robekan kuran. Sajadah bolong di sana-sini berserakan bau debu. Imam di paling depan masih berzikir kusuk. Dua tiga orang muridnya terkantuk di belakang.
Ia datang dalam celana penuh rerobekan dan kemeja kumal bau terminal. Membangunkan murid dari tidurnya yang bohongan. Para murid berdiri dan sang imam pun berhenti. Namun ia tetap melangkah.
"Tobat" kata-katanya keluar berderit, tercekat tenggorokan.
Imam terperangah. Para murid mulai siaga. Tapi ia jatuh pada kedua lututnya. Seketika tangisnya pecah membuncah.
”Tolong." Suaranya bergema dalam lolongan pilu. "Tolong aku. Bawa aku kemana saja. Pergi jauh dari kekejaman ini." Ia meronta seperti hendak merobohkan masjid.
Imam sadar tengah menghadapi siapa. Bromocorah yang bosan dengan kelakuannya, muak dengan dosa-dosanya. Bintik bening menyumbul dari sudut matanya. Imam membimbingnya keluar dari masjid. "Ikutlah denganku. Nampaknya kau begitu haus. Di depan sana ada telaga yang akan membuat kerongkonganmu selalu basah." Mereka pergi. Meninggalkan bising terminal, deru desing mesin bus dan teriakan cempreng calo-calo.
Demikian episode kehidupannya berganti. Kemeja kumal tanpa lengan dilepasnya dengan riang, berganti koko dari katun yang kasar. Dan, celananya yang robek entah dibuangnya ke mana. Berganti sarung Wadimor tua bermotif kotak-kotak. Terminal yang hanya lengang pada pukul dua pagi tak pernah merasa kehilangan ia tinggalkan. Ia tak pernah kembali lagi ke tempat itu. Dilupakannya segala pernak-pernik dosa yang ia buat di sana. Dengan mengubur dalam segala kenangan tentang pisau, rantai gir dan parang plat baja.
Rambutnya yang panjang ikal dibabat habis hingga tinggal satu senti yang tegak berdiri. Kumisnya juga. Sebagai ganti, ia memelihara janggut. Perangainya dibuat halus mungkin dan pergelangan tangannya tidak lepas dibebat dengan tasbih kecil. Mulutnya bergumam-gumam tak pernah berhenti seakan merapal mantra untuk kesaktian. Tapi sorot matanya selalu terlihat gelisah.
Ia berubah, tapi tak pernah lupa. Dari rahim siapa ia merangkak keluar, dan ibu tua yang menelantarkannya di terminal. Gumpalan peristiwa kelam yang tak sanggup membunuhnya, mengendap jadi dendam yang diam-diam bersemayam dalam hati kecilnya. Salah siapa? Pertanyaan yang harus segera memperoleh jawab. Dan Sang Imam yang kemudian menjadi gurunya punya jawaban untuk itu.
"Dosa, setan, maksiat, kemiskinan." Gurunya berkata, dalam percakapan malam antara ia dan gurunya. Ketika garis fajar masih jauh di belakang, namun semua orang telah lelap dalam buaian bantal guling dan ketiak wanita. "Bersujudlah"
"Sampai kapan?"
"Sampai kau menemukan-Nya."
"Di mana?"
"Di sini!" gurunya mengangkat jari dan menunjuk kancing bajunya sendiri.
Ia diam.
"Sampai kau merasakan manisnya menyembah."
Sang guru pergi, tapi ia masih di sana sampai pagi. Sujud.
Berbulan-bulan lamanya ia menekan kuat-kuat kening tebalnya di sajadah kasar yang juga tebal. Menimbulkan bekas menghitam yang memancarkan aura segan. Gelar begundal sendirinya lepas dari namanya yang tak pernah dikenal oleh siapapun. Tapi matanya tetap gelisah. Bahkan semakin hebat ketika ia mulai memimpikan tentang obor, api dan berhala. Dalam mimpi selalu tangan kanannya memegang obor dan tangan yang lain menyulutkan api ke sumbunya. Lalu dari atas bukit yang jauh seorang berseru agar ia bergegas.
"Barkarlah jangan ragu!" suara itu berseru semakin menghujam gendang telinganya.
"Siapa kau?"
"Itu tidak penting. Tapi akulah yang selama ini kau cari-cari." Kini semakin menggelegar. "Bakarlah berhala-berhala itu. Bukankah itu sesembahan ibu dan wanita tua yang menelantarkanmu. Sumber malapetaka yang menimpa hidupmu. Hanguskanlah! Biar mereka sadar siapa yang patutnya disembah."
"Akan kubakar….!" Berulangkali ia selalu terbangun dalam teriakan yang sama. Namun pagi tadi ia memotong bilah bambu dan merobek ujung sarungnya sebagai sumbu. Dan, sore ini sebuah obor telah tercengkeram erat di tangan kanannya.
Sepanjang jalan ia berteriak tentang berhala dan api. Menarik minat tukang ojek, penarik becak dan warga kampung yang berleha-leha di pos ronda. Menyedot perhatian mereka untuk bergegas menyusulnya ke masjid.
Tuban 14 Agustus 2008
Oleh Geger Gendroyono. (penikmat cerpen lahir di lamongan)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)






Tidak ada komentar:
Posting Komentar